Cerita Kami
Berawal dari Bukit Lawang
Keluarga kami tinggal di Bukit Lawang, Sumatera Utara — sebuah desa kecil di tepi hutan hujan Taman Nasional Gunung Leuser, terkenal dengan orangutan dan sungainya yang jernih. Di sinilah orang tua kami, Susanto Ciang dan Sri Astuti, menjalankan sebuah tempat retret mindfulness bagi mereka yang ingin memperlambat langkah dan kembali ke alam.

Kenapa Durian
Bagi keluarga kami, menanam durian adalah bentuk kesabaran. Sama seperti meditasi, kebun ini tumbuh perlahan — pohon yang ditanam hari ini baru berbuah bertahun-tahun kemudian. Pada tahun 2021, kami mulai menanami lahan seluas 8 hektar dengan lebih dari 700 pohon durian premium.

Kebun yang Sedang Tumbuh
Kebun kami masih muda, dan justru di situlah letak keistimewaannya — Anda menyaksikan sebuah kebun durian tumbuh dari awal. Kami menanam bibit varietas terbaik seperti Musang King, Black Thorn, dan Monthong, merawatnya di tanah subur Bukit Lawang, dan kini memasuki masa panen premium pertama kami.
Nama Kami
"Sri Raja" membawa dua makna bagi kami: nama keluarga kami, dan gelar bagi sang raja buah. Kedua hal itulah yang kami tanam di setiap pohon.

Sebuah Undangan
Menikmati durian paling nikmat adalah di tempat ia tumbuh. Kebun kami berada jauh di dalam hutan — sekitar 30 menit berjalan kaki menembus rimba dan menyeberangi sungai. Bagi yang bersedia menempuhnya, ada pengalaman langka menanti: menyantap durian segar, langsung dari pohonnya, di tengah salah satu hutan tertua di dunia.